Ludruk Kesenian Kota Jombang

ludrukLudruk merupakan kesenian drama tradisional khas Jawa Timur, yang biasanya ditampilkan di atas panggung dan menggunakan gamelan sebagai musik pengiring. Cerita yang ditampilkan umumnya tentang kisah kehidupan rakyat sehari-hari, dan biasanya diselingi lawakan. Salah satu versi sejarah kemunculan ludruk menyatakan bahwa ludruk berasal dari daerah Jombang, kemudian ludruk kesenian Kota Jombang ini menyebar ke kota-kota lain di Jawa Timur menjadi pertunjukan kesenian khas Jawa Timur.

Ludruk kesenian Kota Jombang mulai ada sejak awal abad ke-20, berupa seni pertunjukan keliling yang berisi lantunan syair dan tetabuhan sederhana. Seluruh pemainnya adalah laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan wajahnya dirias sedemikian rupa seperti badut. Karena dandanannya ini, masyarakat menyebut para pemain kesenian ini sebagai Wong Lorek, yang kemudian berubah menjadi Lerok, dan digunakan untuk menamai kesenian ini. Pada perkembangannya, kesenian Lerok berubah nama menjadi “Ludruk”, yang berasal dari bunyi “gedruk-gedruk” ketika para pemain menghentakkan kaki ke tanah saat menampilkan pertunjukan.

Ciri khas pertunjukan ludruk versi tradisional adalah seluruh pemainnya laki-laki, walaupun saat ini kita bisa menemukan pemain wanita pada kelompok ludruk modern. Lakon yang ditampilkan biasanya mengambil kisah-kisah yang terjadi pada masyarakat kalangan bawah (wong cilik), dan bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari dengan dialek Jawa Timur, sehingga kisahnya mudah diserap dan dipahami oleh berbagai kalangan. Sebuah pertunjukan ludruk biasanya diawali dengan Tari Remo, dan di tengah pertunjukan biasanya para pemain akan membawakan tembang (lagu-lagu tradisional berbahasa Jawa Timur) atau dialog yang menggunakan parikan (pantun).

Salah satu tokoh ludruk kesenian Kota Jombang adalah Cak Durasim. Cak Durasim merupakan seniman ludruk kelahiran Jombang, yang terkenal akan parikannya yang bersifat perlawanan kepada penjajah, khususnya pada masa penjajahan Jepang. Bunyi parikannya yang fenomenal adalah “Bekupon omahe doro, melok Nipon tambah soro” (bekupon rumah burung dara, ikut Jepang tambah sengsara). Cak Durasim gugur pada tahun 1944 akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Tentara Jepang. Sebagai tanda penghormatan, nama Cak Durasim diabadikan sebagai nama Taman Budaya Jawa Timur yang terdapat di daerah Genteng Kali, Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose